BERBAGI
Pak Jokowi: Maaf, aku tak menuruti permintaan bapak
Pak Jokowi yang saya kagumi waktu itu (2014), saya banggakan waktu itu pula, aku waktu itu rela menabrak aturan Agamaku (Katolik) yang mana sebagai seorang Imam dilarang untuk berpolitik praktis dengan mengkampanyekan salah satu calon demi memenangkanmu pak. Aku rela menerima tawaran dari sahabat saya dari Jakarta untuk menjadi koordinator Bara (Barisan Relawan) for Jokowi President.

Tak kupikirkan resiko dan konsekwensi dari tindakan saya yang “keras kepala” itu hanya demi satu tujuan: Indonesia maju dan berkembang, Indonesia damai dalam perbedaan dibawa kepemimpinan bapak sebagai Presiden.

Setelah menjadi Presiden, Saya tetap bangga pada bapak atas prestasi kerja dan pelayanan bapak membawa Indonesia pada perubahan infrastruktur dan ekonomi sedikit lebih baik. Bapak memberi perhatian yang terlampau “manja” untuk Papua dan Propinsi saya NTT. Bahkan satu hal yang pantas saya haturkan limpah terimakasih kepada bapak adalah menjadikan NTT sebagai Propinsi yang mengedepakan Toleransi.

Semua rasa banggaku itu dulu pak. Namun sekarang perlahan rasa banggaku itu mulai hilang berganti kecewa. Rasa hormat dan optimisku pada bapak yang dulu kini berganti pesimis bahkan emosi atas sikap bapak yang sepertinya tak mampu merawat kebhinekaan, yang pada masa kampanye bapak mengatakan sudah final. Final yang berakhir radikalisme, sepertinya itu yang bapak maksudkan.

Semua rasa banggaku yang lalu atas prestasi kinerja bapak yang cukup signifikan di bidang infrastruktur dan ekonomi kini luntur bersama hiruk pikuk radikalisme yang sepertinya bapak diamkan.

Pak…meski banyak orang meyakini bahwa dengan diamnya bapak, bapak sedang mengatur strategi yang efektif untuk menghancur leburkan kaum radikal. Namun bagi saya tidak. Saya tidak perlu menunggu bersama diamnya bapak. Atau janga-jangan lagi ada kolaborasi tersembunyi menuju 2019?

Pak Jokowi…saya justru menilai bahwa hari ini diskriminasi yang sedang terjadi, juga bisa saja dimainkan oleh bapak.

Pak, ini bukan masalah Ahok. Tapi ini masalah Indonesia. Masalah keutuhan NKRI. Saya heran pak, sebuah masalah nasional bahkan menjadi perbincangan internasional, yang dapat merusak perkembangan ekonomi di bawah kepemimpinan bapak, bapak sepertinya anggap biasa dan mendiamkan. Bahwa pada hari ini semua orang bergerak bukan semata karena masalah Ahok, tapi masalah Kebenaran dan Keadilan yang dibunuh secara sepihak demi kepuasan nafsu FPI dan HTI. Ahok hanya sebuah akibat logis dari nafsu mereka yang ingin membangun khilaffah pak.

Pak Jokowi…Saya semakin heran bahkan sempat berasumsi; jangan-jangan bapak juga yang menginginkan situasi carut marut seperti ini dengan membiarkan “perang keadilan melawan radikalisme” terus berlangsung. Bapak sepertinya membiarkan suara keadilan yang terus berjuang untuk NKRI dan tentu untuk nama baik bapak sendiri.

Pak Jokowi…menjadi nyata juga padamu bahwa kebhinekaan belum final. Kebhinekaan menjadi final ketika isu sara dan sentimen agama tidak lagi dimainkan dalam genderang demokrasi dan politik. Rasa bangga dan hormatku pada bapak, kini menjadi rasa kecewa dan pesimis pada janji bapak; “Kebhinekaan sudah final”.

Meski tak bisa disimpulkan, namun menurut hemat saya, saya menilai bapak juga sebagai seorang diskriminatif. Alasan saya demikian bapak:

1. Aksi Bela Islam vs Aksi Kamisan. Aksi Kamisan yang sudah berlangsung lama di depan istana presiden yang menuntu hak dan keadilan serta proses hukum terhadap pelanggalaran HAM tidak bapak temui. Tapi aksi bela Islam yang sejatinya merongrong dan mengancam kebhinekaan dan keutuhan NKRI bapak temui dengan senyum harapan. Ini bentuk diskriminasi pak. Silahkan bapak menilai sendiri.

2. Aksi Bela Islam vs Korban Pertambangan. Belasan anak meninggal di lubang pertambangan di Kaltim, bapak tak juga mengunjungi keluarga korban, Aksi Bela Islam bapak kunjungi lengkap dengan TNI dan Kapolri serta sebagian Kabinet Kerja. Ini bentuk diskriminasi pak.

3. Aksi Bela Islam vs Aksi Bela Keadilan dan Kebenaran. Aksi merusak kebhinekaan dan keutuhan NKRI bapak jumpai dan sapa, aksi memperjuangan keadilan demi keutuhan NKRI tak ada wajah dan senyuman bapak menyapa mereka. Ini bentuk diskriminasi pak.

Pak Jokowi…yang paling menyakitkan adalah pernyataan bapak yang meminta kami untuk menghargai keputusan hakim yang secara nurani saya yakin bapak juga tau bahwa keputusan itu adalah pertanda matinya keadilan. Pernyataan bapak adalah tombak yang sedang menikam suara perjuangan keadilan dan kebenaran. Pernyataan bapak (9/5/2017), mengisyaratkan kepada saya bahwa bapak memang ingin memuaskan kaum radikal, apakah untuk masa depan 2019 atau apa, saya justru bingung dalam sakit. Pernyataan bapak, meminta saya atau kami menghormati keputusan adalah cara bapak membunuh keadilan sendiri dan membiarkan paham radikal bersama kaumnya bertumbuh subur.

Pak Jokowi…atas permintaanmu itu saya yang adalah wargamu, dengan tegas menolak permintaan bapak. Saya hanya menghargai dan menerima keputusan hakim kalau prosesnya benar. Wong ini keputusan karena tekanan FPI & HTI kok suruh saya terima keputusan hakim. Sama saja kalau saya secara bodoh menerima keputusan hakim artinya saya menyetujui tindakan FPI dan HTI atau bahkan termasuk salah satu anggota FPI dan HTI. Jadi untuk Pak Jokowi, saya tolak mentah-mentah permintaan bapak untuk hormati keputusan hakim.

Semoga bapak sadar dan tak akan mencuci tangan dalam diam. Belajarlah untuk tegas dan berani dalam prinsip keadilan dan kebenaran pada kolega partai dan bawahanmu Pak Djarot.

Salam Bhineka Tunggal Ika & NKRI.

Manila: Mei-11-2017
RP. Yohanes Kopong Tuan MSF

(sumber: marjinnews.com)